Museum dan Opini Politik

Saya biasanya bukan orang yang suka terang-terangan menuliskan opini politik di social media. Biasanya diskusi mengenai politik lebih nyaman saya lakukan bersama orang-orang terdekat saja, mostly bersama Rinta si sarjana politik, keluarga atau teman-teman karib. Karena saya sering melihat bagaimana opini politik diutarakan dengan suara-suara kebencian yang dangkal, sengaja membuat suasana panas tanpa tanggung jawab dan cara berpikir kritis. Terutama jika isu politik sudah dicampur-campur dengan isu agama. Suka ngeri sendiri rasanya melihat komentar-komentar atau debat-debat semacam itu di social media, yak kok rasanya gampang saja menggeneralisir dan membenci setiap individu dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda.

Namun beberapa minggu ini saya mulai tergelitik untuk menuliskan sesuatu mengenai kondisi politik Amerika Serikat yang sedang ramai-ramainya, terutama dalam konteks dan hubungannya dengan dunia seni dan permuseuman. Berada di New York saat ini merupakan saat yang begitu menarik bagi saya, kota yang dipemilu kemarin sudah jelas-jelas biru dan memang selalu biru, kota yang penuh dengan imigran dan melindungi para imigran, kota yang sangat menjunjung tinggi perbedaan dan kota yang perlahan telah pulih dari trauma mengerikan tanggal 11 September enam belas tahun yang lalu.

Di sini tidak mungkin untuk menjadi netral dan apolitis, semua orang memiliki opini yang begitu kuat mengenai preferensi politik mereka. Bahkan saya ingat semester lalu setelah hasil electoral college diumumkan dan Donald Trump resmi menjadi President Elect of the United States, selama satu minggu itu kami akan menghabiskan hampir 30 menit untuk mendiskusikan hal ini di dalam kelas. Dosen-dosen saya mengungkapkan kekecewaanya, bahkan salah satu dari dosen saya bercerita bahwa ia menangis melihat hasil pemilu tadi malam. Teman-teman saya yang berkewarganegaraan Amerika Serikat akan mengungkapkan kesedihannya, ketakutan mereka, berpendapat dan memprediksi apa yang akan terjadi, sambil masih berharap bahwa ini semua hanya mimpi buruk dan besok pagi mereka semua akan terbangun. Bahkan kampus saya, NYU, langsung mengirimkan surel ke semua mahasiswa bahwa mereka membuka crisis center untuk para mahasiswa yang membutuhkan dukungan moral dan ingin berkonsultansi.

Jadi hampir tidak mungkin untuk menjadi netral disini. Semua orang harus berpendapat, semua orang harus punya political stand. Rasanya di New York ini kalau mengaku sebagai pendukung partai Republican, atau pendukung Trump, atau tidak mendukung nilai-nilai liberal partai Democrat akan dicap sebagai racist, homobhobic, bigot, sexist, Islamophobic dan lain lain sebagaimana Donald Trump diasosiasikan (walaupun mempercayai nilai-nilai liberal, saya pribadi berpendapat bahwa tidak adil mencap seluruh pendukung Republican seperti itu hanya karena beberapa figurnya dikenal begitu). Namun intinya, semua orang berlomba untuk berpendapat, berlomba untuk menunjukan afiliasi politik mereka, begitupun dengan insitusi-institusi kebudayaan seperti museum.

***

Tanggal 27 Januari kemarin, Presiden Donald Trump mengeluarkan executive order yang memberlakukan travel ban ke tujuh negara mayoritas muslim – Yemen, Somalia, iran, Iraq, Libya, Sudan dan Syria, yang secara langsung juga melarang masuknya refugees Syria. Sebagai reaksi atas keputusan tersebut, pada tanggal 3 Februari kemarin MoMA (Museum of Modern Art) memutuskan untuk mencopot beberapa karya master seni modern barat di galeri koleksi permanen mereka di lantai 5 (yang menjadi denyut nadi museum ini sejak ia didirikan tahun 1929) dan menukarnya denga karya-karya seniman yang berasal dari tujuh negara tersebut. Beberapa karya master seni modern Barat seperti Picasso, Matisse, Ensor, Boccioni, Picabia, Burrie, diturunkan untuk memberi ruang pada karya-karya seniman yang negaranya menjadi sasaran ban. Kejadian ini cukup membuat heboh dan hampir semua media meliputnya (bahkan New York Times mengeluarkan 2 artikel mengenai hal ini dihari yang sama). Saya sudah menduga bahwa isu ini akan jadi pembicaraan hangat di dalam kelas minggu depan.

Benar saja di kelas Museum Management tanggal 6 Februari kemarin, topik ini menjadi santapan pembuka. Terlebih karena hari itu kelas kami kedatangan Thomas J. Lax, Associate Curator of Media and Performance Art dari MoMA langsung. Tanpa babibu topik mengenai kejadian ini langsung muncul pada sesi tanya jawab. Thomas menjelaskan bahwa keputusan ini diambil oleh para kurator MoMA dengan sangat spontan. Biasanya MoMA membutuhkan 3-4 tahun persiapan sebelum akhirnya sebuah pameran dapat terlaksana, semua penuh pertimbangan dan persiapan yang matang dan bertanggung jawab. Melalui keputusan ini, MoMA resmi bersuara dan berdiri membela nilai-nilainya. Begitu spontannya keputusan ini, Thomas mengungkapkan para kurator pun belum memutuskan sampai kapan karya-karya ini akan menempati galeri koleksi permanen museum mereka. Namun sangat terlihat diwajahnya, bahwa Thomas sangat senang dengan fakta bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, MoMA tidak memiliki jawaban atas langkah yang mereka lakukan. Sangat menyenangkan untuk tidak memiliki jawaban atas semua pertanyaan. Hal yang jarang sekali terjadi pada kasus museum sebesar MoMA.

Sebagai mahasiswa museum studies, ada beberapa aspek yang harus kami pikirkan dan diskusikan mengenai kejadian ini. Salah satunya, bagaimana dampak reaksi ini terhadap finansial dan popularitas mereka? Beberapa pendapat mengungkapkan skeptisisme mereka dengan berasumsi bahwa langkah ini merupakan strategi marketing semata. Tentu saja dengan langkah ini, akan semakin banyak turis yang ingin datang ke MoMA yang tentu saja akan meningkatkan penjualan tiket mereka. Akan semakin banyak pendaftaran member dan semakin banyak orang yang ingin terlibat dan bekerja dengan MoMA (tak terkecuali saya). Namun saya pribadi merasa langkah ini jauh lebih dalam ketimbang strategi marketing belaka.

Dengan mengambil langkah seperti ini MoMA bukan samata-mata terlepas dari resiko. Memang benar MoMA merupakan institusi seni independen yang tidak menerima funding apapun dari pemerintah pusat, jadi mereka tidak usah khawatir jika tiba-tiba tidak mendapatkan dana dari pemerintah karena toh dari awal memang sudah begitu. Namun, bagaimana dengan para Board of Trustee mereka? Belum tentu dari sekian banyak trustees mereka semuanya memiliki opini dan nila-nilai liberal yang sama dengan yang lain. Bagaimana jika mereka memutuskan untuk menarik saham mereka? (untuk catatatan, anggota trustees di museum-museum di Amerika, terutama di museum sebesar MoMA, menganggap serius perannya sebagai penyokong dana dan mereka memiliki suara yang besar untuk menentukan citra museum ini di depan publik). Namun nyatanya MoMA berani mengambil langkah ini dan hingga saat ini tidak ada satu anggota trustee pun yang menarik sahamnya karena kejadian ini. Semua anggota trustees dan para direktur menghargai keputusan para kurator dan lebih lagi mengakomodirnya.

Langkah MoMA untuk memajang karya-karya seniman yang negaranya menjadi sasaran travel ban ini juga menurut saya salah satu langkah bersejarah. Dari awal didirikan, koleksi seni modern MoMA adalah posesi yang sangat sakral bagi mereka. Lantai 4 dan lantai 5 MoMA adalah epitomi dari gerakan Modernisme Barat, dua galeri paling sakral yang menjadi kunjungan wajib setiap turis. Aura sakralnya menyerupai rumah peribadatan; setiap hari orang berjejalan ramai di depan karya ‘Starry Starry Night’ persis seperti orang yang berziarah ke kuil atau naik haji, belum afdol kalau tidak menyambangi karya ini. Karena itulah koleksi permanen di lantai ini sangat jarang diubah (ruangan ini di atur berdasarkan kurun waktu sejarah dan –isme). Jadi tidak berlebihan jika langkah MoMA untuk mengintervensi galeri koleksi permanennya dianggap sebagai sebuah langkah yang menggebrak. Mungkin di museum-museum atau galeri-galeri lain, hal seperti ini rasanya biasa saja terjadi. Tapi bagi sebagian besar pegiat seni dan pekerja profesional museum yang megetahui sejarah dan sepak terjang MoMA, langkah ini dianggap sangat luar biasa.

img_8427
Karya Parviz Tanavoli, The Prophet (1964)

(Left) Karya Shirana Shahbazi ‘(Composition-40-2011)’ (2011) dan (right) karya Charles Hossein Zenderoudi ‘K+L+32+H+4. Mon père et moi (My Father and I) (1962)

Minggu itu juga saya akhirnya buru-buru mengunjungi MoMA karena tidak ingin ketinggalan melihat langsung karya-karya tersebut. Di lantai pertama, sebagai salah satu bagian dari gerakan ini, MoMA memajang karya installasi Siah Armajani, seniman kelahiran Iran. Setelah itu, saya langsung bertandang ke lantai 5. Biasanya setiap ke lantai 5, saya akan memulai kunjungan ke galeri Impresionisme dimana Starry-Starry night berada. Di galeri ini, menyempil satu karya Zaha Hadid, aristek/seniman Inggris kelahiran Iraq, yang berjudul The Peak, Hongkong. Di galeri selanjutnya, yaitu di galeri Kubisme yang penuh dengan karya-karya Picasso, menyempil satu karya dari figure seni modern Afrika asal Sudan, Ibrahim El-Salahi, berjudul The Mosque. Di ruangan karya-karya Futurisme, karya Bronze di atas base kayu berjudul The Propehet (1964) karya Parviz Tanavoli seniman Iran-Kanada mencuri perhatian. Di ruangan selanjutnya pun saya temui karya video Tala Madani, seniman asal Iran, bersandingan dengar karya Gustav Klimt. Di ruangan selanjutnya, karya Shirani Shahbazi seniman Jerman kelahiran Iran dan karya Charles Hossein Zendroudi, seniman asal Iran, dipamerkan diruangan yang sama dengan masterpiece karya Matisse berjudul ‘Dance’ dan karya ready-mades Marcel Duchamp. Kemudian di galeri selanjutnya saya menemukan karya Earthwork dari Marcos Grigorian, seniman Iran-Amerika. Di bawah label penjelasan karya-karya ini, MoMA menambahkan satu paragraph singkat:

 This works is by an artist from a nation whose citizens are being denied entry into the United States, according to a presidential executive order issued on January 27, 2017. This is one of several such artworks from the Museum’s collection installed throughout the fifth-floor galleires to affirm the ideals of welcome and freedom as vital to this Museum, as they are to the United States.

(left) Karya Ibrahim El-Salahi ‘The Mosque'(1964) dan (right) karya Siah Armajani berjudul Elements Number 30 (1990)

 

img_8435
Saya dan karya Zaha Hadid berjudul The Peak, Hong Kong project (1991)

 

img_8425
Karya video seniman Iran, Tala Madani ‘Chit Chat( (2007)

 

Selain MoMA, museum-museum lain juga mulai bersuara dan mengekspresikan reaksi mereka terhadap isu travel ban tersebut. Tanggal 10 Februari kemarin, kurator dari departemen Ancient Near Eastern Art dan departemen Islamic Art dari Metropolitan Museum of Art menggelar sesi kuliah umum tentang karya-karya yang dibuat antara periode milennium keempat Sebelum Masehi dan abad ke-19, di wilayah-wilayah yang sekarang menjadi Iraq, Syiria, Iran dan Yemen (empat dari tujuh negara yang terkena dampak U.S. travel ban). Kemudian baru saja kemarin, tanggal 16 Februari, Davis Museum di Wellesley, Massachusets, menggelar protes dengan menurunkan semua koleksi karya-karya dari para seniman imigran beserta karya-karya yang disumbangkan oleh para kolektor yang juga imigran. Hasilnya? Tentu saja tembok kosong dimana-mana, terutama pada seksi karya-karya Eropa dan Afrika. Dengan pameran ini mereka ingin menunjukkan betapa pentingnya peran imigran dalam pembangunan negara dan peradaban negara adidaya ini.

***

Rentetan kejadian di atas kembali mengingatkan saya pada peran seni dan budaya beserta institusi kebudayaan yang menjaganya, dan mengingatkan lagi tujuan awal mengapa saya ingin melanjutkan studi magister di jurusan Museum Studies. Museum seni tidak pernah netral dan memang tidak seharusnya netral. Museum harus memiliki suara, mengajak para pengunjungnya berpikir kritis terhadap permasalahan di sekitar mereka dan diwaktu yang sama dapat mempertanggung jawabkan segala keputusan mereka dengan basis akademis yang bermartabat. Mereka harus mampu menyentil rasa kemanusiaan dan menyuguhkan ketidaknyamanan bagi siapapun yang lupa untuk hidup sepenuhnya. Menjadi warga New York, sebuah safe heaven bagi para imigran, kota dimana setiap individu adalah minoritas, mengukuhkan kepercayaan saya bahwa seni dan budaya merupakan kendaraan yang sangat strategis untuk menjunjung nilai-nilai kesetaraan dan hak golongan-golongan minoritas dan termarginalkan.

Terlebih lagi, dengan segala rangkaian protes damai penolakan executive order ini (yang sering kali berlokasi di dekat kampus saya, Washington Square Park), saya menyaksikan langsung bagaimana seriusnya warga new York membela hak-hak para minoritas, salah satunya agama saya sendiri, Islam. Jadi buat apa di negara sendiri, para mayoritas sering memperlakukan agama minoritas dengan tidak adil, menjadikan latar belakang agama dan adat yang berbeda alasan untuk saling benci dan saling bunuh, juga jadi bahan fitnah dan menerjal lawan politik.

***

Sekian dulu celotehan saya yang semoga dapat menambahkan bahan renungan sebelum tidur tentang bagaimana sebuah institusi kebudayaan dapat  bersuara dan berpegang teguh pada nilai-nilai yang dianggapnya benar. Silahkan dipetik hikmahnya jika ada yang bisa dipetik kalau tidak ada juga tak mengapa, yang penting ‘tetep asik’. Semoga di masa depan, institusi-institusi kebudayaan di Indonesia juga dapat bersuara atas nama kemanusiaan yang adil dan beradab dan dapat menjadi wahana diskusi kritis bagi para pengunjungnya.

Untuk Indonesia yang lebih cerdas,

RA.

If I love someone, I give him a painting or tapestry as a gift! But never would I sell it. I’ll leave it to the Indonesian people when I go. Let them put it into a National Museum. Then, if they are restless and disturbed, let them sit in front of a painting and feed on its beauty and stillness until it fills their soul with peace as it has done mine. Yes, I will leave my art to my people. But sell it? Never!

Bung Karno

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s