Pre-Departure Denial: Jakarta-New York

Dari kecil saya selalu merasa bahwa darah perantau memang mengalir deras dalam darah saya. Lahir dan tumbuh besar dalam keluarga Minang mentok, konsep mengenai merantau bukanlah hal yang aneh bagi saya. bahkan waktu kecil saya sempat berpikir bahwa merantau adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh semua anak ketika telah dewasa. Namun setelah dewasa, saya mulai mengetahui bahwa tidak semua orang dewasa pergi merantau dan  orang Minang adalah salah satu suku dengan budaya rantau yang sangat kuat (selain tentunya orang Bugis yang nenek moyangnya seorang pelaut). Karena itu tidak heran mengapa saya begitu menikmati perjalanan panjang, jarang mengalami mabuk laut, darat ataupun udara, tidak betah di rumah dan selalu ingin menjelajah ke tempat-tempat baru yang belum pernah saya kunjungi.

Walaupun pengalaman merantau sudah saya alami sejak tahun 2009 ketika saya memulai studi sarjana saya di Bandung, waktu tempuh yang tidak jauh membuat saya bisa sering pulang ke Jakarta dan begitupun orang tua saya dapat sering mengunjungi saya di Bandung. Walau begitu, pengalaman hidup sendiri di kota lain tentu sangat saya nikmati. Bagi saya, hidup merantau jauh dari keluarga memberikan kita akses penuh pada proses pencarian diri yang sesungguhnya. Meski pernah mengalaminya, beberapa minggu sebelum keberangkatan saya ke kota New York, saya tetap tidak bisa menghindari dua perasaan yang melingkupi sebagian besar diri saya hingga akhirnya hari keberangkatan saya tiba, kekhawatiran dan penyangkalan. Awalnya saya berpikir bahwa hanya saya seorang yang mengalami gejala yang saya sebut sebagai symptom pre-departure-denial-and-anxiety-phase. Istilah yang saya ciptakan sendiri. Ternyata setelah tiba dan berbincang dengan beberapa kawan Indonesia lainnya disini, secara mengejutkan mereka pun juga mengalami fase dengan diagnosis yang sama sesaat sebelum keberangkatan mereka.

Fase pertama, ‘kekhawatiran’ (anxiety). Sekitar tiga minggu sebelum keberangkatan saya sudah mulai merasa gejala ini datang menghampiri. Serangannya terutama datang 2 minggu sebelum hari keberangkatan. Saya mulai mengkhawatirkan banyak hal. Bagaimana hidup saya disana nanti, apa saya bisa menjalani studi saya dengan baik, bagaimana dengan biaya hidup yang sangat tinggi di New York, tentang sahabat-sahabat terkasih yang akan saya tinggalkan di Indonesia, tentang betapa saya akan merindukan banyak hal disini, tentang dinginnya musim dingin yang akan saya hadapi di akhir tahun tanpa sup buatan ibu dan hangatnya perbincangan dua sahabat karib. Fase ini menggiring saya untuk memasuki fase kedua: ‘penyangkalan’ (denial), penolakan akan fakta bahwa saya akan segera berangkat.Fase ‘penyangkalan’ agak merepotakan pada akhirnya, karena fase ini membuat saya tidak kunjung  mulai menyusun koper saya dan menyiapkan segala hal yang harus saya bawa. Bahkan saya menunggu saat-saat terakhir untuk memesan tiket pesawat saya dari travel agent  yang sudah disediakan oleh lembaga beasiswa saya. Gejala ini makin saya sadari setelah saya selesai menonton presentasi seorang Blogger fenomenal asal New York bernama Tim Urban dalam TED Talk edisi Februari 2016 kemarin. Presentasi Urban berjudul Inside The Mind of A Master Procrastinator. Serta merta video ini langsung menarik perhatian saya, karena itu lah saya, seorang procrastinator! Menurut Urban, orang yang sering terlambat adalah seorang yang optimis. karena itu lah kami selalu terlambat, karena kami orang yang optimis dan menyangkal bagaimana cara waktu bekerja. Lebih jelas lagi menurutnya, dan saya tidak bisa tidak setuju dengan hal ini, bahwa orang dengan masalah keterlambatan akut memiliki tendensi untuk “underestimate how long things take comes out of some habitual delusional optimism”.

Mau tidak mau saya harus setuju dan ikut tertawa melihat pernyataan tersebut. Karena persis itu lah yang terjadi kepada saya beberapa minggu sebelum pergi meninggalkan Tanah Air untuk waktu yang lama. Saya tidak memiliki logika yang sama dengan orang lain tentang bagaimana waktu berjalan! saya pikir menyusun barang dalam koper hanya akan memakan waktu sepuluh menit saja dan saya akan menunggu hingga saat-saat terakhir untuk melakukannya (hingga sesaat sebelum berangkat ke bandara saya masih berkutat dengan penyusunan barang-barang saya). Lucunya, beberapa teman-teman yang saya tanyai begitu kami tiba disini mengalami hal yang kurang lebih sama. Kami mengelak bahwa waktu berjalan dengan sangat cepat. Sehingga kami mengira kami masih memiliki begitu banyak waktu sebelum akhirnya benar-benar berangkat. Saya habiskan dua minggu terakhir saya di Jakarta dengan bertemu semua teman, mendatangi semua acara seni budaya yang sedang berlangsung, atau simply menikmati hari bersama komputer tua saya dari satu coffee shop ke coffee shop lainnya, kadang sendiri kadang bersama sahabat. Orang tua saya bingung melihat tingkah saya yang sangat kurang persiapan, seperti orang yang hanya akan berangkat ke Bandung saja, di saat sebenarnya akan pergi ke bagian bumi yang lain (secara literal). Saya benar-benar menepis fakta bahwa saya akan segera berangkat.

Jelas sekali saya dan waktu terkadang tidak akur. Sore itu tanggal 27 Agustus 2016, ketika saya tiba di Bandara Soekarno-Hatta untuk berangkat mengarungi separuh dunia, saya harus berkutat dengan banyak kerepotan-kerepotan yang mengkonsumsi sebagian besar dari sedikit waktu yang bisa saya habiskan bersama keluarga dan teman-teman yang datang untuk mengantarkan. Mulai dari perjalanan mencari ATM BRI yang sangat panjang karena ATM terdekat rusak, dan antrian check-in pesawat Emirates yang melingkar-lingkar seperti ular naga yang panjangnya bukan kepalang. Saya menghabiskan waktu antrian check-in terlama yang pernah saya alami disebabkan terdapat banyak rombongan haji yang akan berangkat bersama kami. Akhirnya, saya, dan dua teman yang berangkat bersama saya dari Jakarta, Shofi dan Binar, hanya memiliki sedikit sekali waktu untuk berpamitan sengan keluarga dan sahabat karena proses boarding sudah dimulai. Saya hanya sempat berbagi pelukan singkat dan mengambil beberapa jepret foto dengan mereka sebelum akhirnya masuk dan melewati imigrasi.

Hati saya tertinggal dan saya masih mengawang entah dimana. Belum sepenuhnya tersadar dari apa yang barusan terjadi. Bahwa saya tidak akan bertemu mereka lagi setidaknya untuk dua tahun kedepan, namun tidak mendapatkan waktu perpisahan yang cukup dan seharusnya. Sesampainya di dalam pesawat, sambil masih menunggu pesawat lepas landas dan sambil mengirimi beberapa pesan Whatsapp terakhir untuk orang terkasih, saya palingkan muka ke arah jendela pesawat yang muram, kemudian saya mulai menangis sesunggukkan. Akhirnya sadar akan apa yang terjadi.

Saya dengar teman saya, Shofi, yang duduk di sebelah saya juga sudah mulai menangis. Jadilah kami berdua menangis tanpa malu-malu dan tanpa tedeng aling-aling. Menghiraukan Bapak-Bapak rombongan haji yang duduk disebelah kami. Untungnya tak berlangsung lama, bukan air mata saja yang menetes. Namun air AC di atas kepala saya juga menetes sehingga saya terdistraksi dari kesedihan saya dan malah menertawakan ironi ini bersama Shofi. Pesawat ini entah ingin ikut menangis juga atau malah ingin meledek. Akhirnya dengan menudungi kepala dengan selimut pesawat, mata sembap, kaos kaki tebal dan berbulu, saya mulai meniup neck pillow saya dan bersiap tidur.

Kemudian kami lepas landas, dan memulai penerbangan terlama dalam hidup kami.

RA

Elmhurst, New York.

4 September 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s