Sikap Perempuan Indonesia Di Akhir Masa Kolonialisme Belanda Dalam Novel Lajar Terkembang

Saya menemukan buku ini di sela-sela tumpukan buku bekas lainnya di lantai paling dasar Blok-M square. Saat itu saya dan seorang kawan memang sengaja datang kesana untuk berburu buku bekas. Tanpa ekspektasi apapun, saya berkeliling dan melihat-lihat. Saya percaya bahwa buku sama halnya seperti jodoh, mereka lah yang menemukan kita. Jarang sekali kita yang menemukan mereka. Kemudian pada satu sudut kedai buku, buku tua ini menemukan saya. Dengan kemampuan menawar saya yang sengit, potongan setengah hargapun saya dapatkan. Walaupun telah di bungkus plastik bening rapih, keadaan buku ini sebenarnya sudah sangat buruk. Sampulnya sudah mengelupas dan terdapat bekas rembesan cairan serupa warna kopi. Kertasnya sudah menguning, namun setiap halaman di dalamnya masih jelas terbaca.

Jadi singkat cerita, mulailah saya berkenalan dengan Tuti Wiriaatmadja, Maria Wiriaatmadja dan Jusuf. Tiga karakter utama dalam novel ini. Tuti dan Maria adalah dua kakak-beradik yang cukup rukun. Usia mereka terpaut 5 tahun. Maria masih bersekolah tingkat akhir di H.B.S. Carpentier Alting Stichting dan bercita-cita menjadi guru, sedangkan Kakaknya sudah lebih dulu lulus dan sudah menjadi guru di sekolah H.I.S. Ardjuna di Petodjo. Sedangkan Jusuf adalah seorang siswa di Sekolah Tabib Tinggi yang berarti setelah lulus ia akan langsung menjadi dokter. Melihat latar belakang para karakter di atas saja, dengan jelas di gambarkan bahwa mereka bertiga adalah termasuk orang-orang pribumi pada kelas sosial menengah atas di penghujung zaman penjajahan Belanda (1936), sebelum jatuhnya perang dunia ke dua. Ayah Tuti dan Maria adalah pensiunan wedana (sekarang nampaknya disebut Bupati) Banten dan Jusuf adalah anak dari Demang Munaf asal Martapura, Sumatera Selatan.

Mereka bertiga memiliki karakter yang sangat berbeda. Tuti adalah seorang wanita modern berpikiran maju, sekaligus ia adalah seorang aktivis yang mempertanyakan hakikat derajat dan martabat perempuan dalam bangsa Indonesia. Sedangkan Maria adalah seorang wanita ceria yang nampak tak punya beban hidup, pemikiran-pemikirannya tak serumit kakaknya namun ia digambarkan sebagai sosok yang sangat baik hati. Sedangkan Jusuf adalah seorang pemuda zaman baru yang menyadari pentingnya peran pemuda dan kaum terpelajar untuk kemajuan bangsa. Cerita dimulai ketika jusuf berkenalan dengan dua kakak-beradik ini, dan jatuh cinta dengan salah satu diantaranya.

Dari penjabaran singkat mengenai karakter mereka bertiga, pembaca mungkin menduga bahwa Jusuf akan langsung jatuh cinta pada Tuti, perempuan dengan karakter kuat yang hidup dengan nilai-nilai yang dipercayainya. Namun nyatanya tidak demikian, Jusuf jatuh cinta pada Maria. Sang adik yang tidak menaruh peduli pada gerakan-gerakan zaman, namun sangat ceria dan memiliki banyak teman.

Dalam dua karakter Tuti dan Maria, S. Takdir Alisjahbana nampaknya mencoba membagi perempuan kedalam dua jenis yang mungkin dilihatnya akan selalu relevan pada tiap-tiap zaman. Pertama, seorang perempuan yang selalu berpikir. Bahkan berpikir melampaui zamannya, berpikir mengenai nasib kaumnya, mempertanyakan segala hal, dan perempuan yang selalu mengisi dirinya dengan berbagai macam pengetahuan namun tak menelannya begitu saja. Hal ini tentu di tuangkannya dalam karakter Tuti Wiriaatmadja, karakter yang di gambarkan Jusuf sebagai “Seseorang yang agak pendiam dan tertutup rupanya, tetapi segala upayanya teliti”. Kedua, seorang perempuan yang nampak selalu berbahagia namun agak dangkal pemikiran-pemikirannya. Walau begitu, perempuan jenis kedua ini merupakan perempuan yang senantiasa menyebarkan kebahagiaan pada orang-orang di sekelilingnya, yang tanpanya hari-hari bagaikan gudang berdebu. Hal ini dituangkan dalam karakter Maria Wiiriaatmadja, seorang yang dicintai Jusuf dan digambarkannya sebagai “…suka berbicara, lekas tertawa, gelisah, penggerak.” dan “Mukanya lebih berseri-seri, matanya menyinarkan kegirangan hidup dan bibirnya senantiasa tersenyum menyingkapkan giginya yang putih”.

Karakter Maria yang saya tangkap adalah karakter yang tidak menaruh peduli pada apa-apa yang tidak berhubungan dengan dirinya. Saya bayangkan dia adalah orang yang mau melakukan sesuatu, karena akan membuat senang orang yang dipujanya. Seperti ketika ia mau masuk menjadi anggota pada perkumpulan perempuan pribumi, karena mendapat kritik dari Jusuf, padahal sebenarnya ia sudah cukup bahagia dengan teman-teman Belandanya. Namun Tuti, seratus persen kebalikannya. Tuti tidak akan rela melakukan sesuatu yang tidak dapat di cerna oleh logikanya. Pemikiran-pemikiran Tuti sangat menyiratkan semangat modern Barat. Seperti pemikirannya mengenai agama di bawah ini (sudah saya sempurnakan ke dalam ejaan baru agar tidak sulit dibaca):

“Kalau saya akan memegang agama, maka agama itu ialah yang sesuai dengan akal saya, yang terasa oleh hati saya. Agama yang lain dari itu saya anggap seperti bedak yang tipis saja, yang luntur kena keringat”. (p. 34)

Kemudian, setelah di ledek Maria bahwa kalau terus menanti dan mencari, sampai kiamat pun Tuti tidak akan mendapat agama juga, ia menjawab:

“…Saya orang Islam, tetapi nama itu baginya hanya nama pusaka. Sebagai pusaka boleh juga ia menempel kepada saya, tetapi saya tiada akan menyebut-nyebutnya sebelum ia berdebur sebenar-benarnya dalam hati saya. Sebab bagi saya rupa yang lahir itu harus sesuai dengan isinya didalam.” (p. 34)

Dalam ucapan Tuti di atas, sang pengarang tentu megkritisi sikap hipokrit yang dimiliki kebanyakan orang dalam bangsa ini yang kerap berkoar-koar dan memamerkan atribut keagamaan walaupun belum tentu yang disebutnya agama adalah yang “berdebur” kencang dalam hatinya. Selain dari ucapan-ucapannya yang penuh dengan keyakinan, pandangan-pandangannya terhadap kaum muda juga lah yang membuat saya semakin jatuh cinta pada karakter Tuti (tanpa mengurangi rasa hormat terhadap sosok Maria).Banyak pendapat-pendapatnya yang secara langsung membela pandangan generasinya. Ketika seorang pamannya mengeluh dan marah-marah karena anaknya keluar dari pekerjaan yang stabil untuk mengikuti keinginan hatinya bertani, Tuti memberikan pengertian yang sangat diplomatis. Ia katakan bahwa generasinya ini bukanlah sengaja ingin menentang orang tuanya. Memang orang tua akan selalu mengkhawatirkan anaknya, orang tua telah berjuang habis-habisan untuk membiayai pendidikan anaknya, namun pengertian bahagia bagi seorang anak tentu dapat berbeda dengan pengertian bahagia milik orang tuanya. Hal ini terasa sangat relevan hingga zaman sekarang. Ketika kebanyakan orang tua masih mewajibkan anaknya untuk mengikuti kehendaknya, terutama dalam memilih jurusan kuliah dan kemudian pekerjaan yang dianggap baik.

Sebagai seorang anak yang memilih jurusan seni rupa ketika kuliah, saya pun pernah mengalami hal serupa. Orang tua saya tentu tidak pernah berharap anaknya menjadi seorang seniman atau kurator atau apa-apa profesi seni yang bahkan tidak pernah mereka dengar namanya. Namun dengan sedikit trik dan pembicaraan, akhirnya saya mendapatkan restu untuk mengambil jurusan seni rupa pada tingkat sarjana saya. Karena sesungguhnya tiap-tiap generasi berhak menentukan definisi bahagia bagi dirinya sendiri, sehingga ia mampu dengan mandiri menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia. Di bawah ini adalah potongan kalimat Tuti mengenai definisi bahagia bagi saudara segenerasinya yang sangat saya sukai:

 
“…Bahagia itu baginya tidak sama dengan hidup yang senang. Baginya yang dinamakannya bahagia itu ialah dapat menurutkan desakan hatinya, dapat mengembangkan tenaga dan kecakapannya dan menyerahkannya kepada yang terasa kepadanya yang terbesar dan termulia dalam hidup ini“. (p. 28)

Bagi saya, karakter Tuti adalah kenyataan, yang pahit namun benar. Ia adalah sosok yang mampu menganalisa setiap inci perasaaan yang dimilikinya. Baginya, berlarut-larut dalam emosi dan perasaan cinta itu bodoh, walaupun sebagai perempuan kerap ia pun begitu, dan kemudian disadarinya kelemahannya itu dengan terbuka. Namun, dengan kesadaran penuh mengenai perasaan dan eksistensinya itu, Tuti mampu berpikir jernih dan bertatap muka dengan kata hatinya yang sedalam samudera. Karena itulah ia adalah sosok yang penuh keyakinan terhadap apa-apa yang diucapkan dan dilakukannya. Seorang karakter yang sangat mengagumkan bagi Saya.

“Sekarang saya sudah menyelidiki hati saya, kejam dan bengis, tiada pandang-memandang. Segala Sudut dan relung yang gelap tersembunyi sudah saya senteri dengan lampu yang seterang-terangnya dan saya sudah tahu hati saya yang sejelas-jelasnya.” (p.127)

Membaca kalimat di atas, hal pertama yang terpikirkan adalah: ah, seandainya saya adalah setengah saja dari jiwa seorang Tuti Wiraatmadja. Bahkan, seandainya seluruh kaum muda memiliki kemampuan menganalisa jiwa mereka sendiri seperti yang Tuti lakukan di atas, niscaya hidup akan lebih indah. Betul-betul.

Berbeda atau bahkan melampaui pemikiran para feminis dari Barat, pemikiran Tuti mengenai pernikahan akhirnya mewakili pemikiran wanita Indonesia modern yang ideal. Ia menyadari bahwa pernikahan bukanlah penjara yang dapat membatasi segala potensi yang dimiliki wanita. Hal ini disadarinya ketika ia berdiskusi dengan pasangan Ratna dan Saleh, suami istri yang berasal dari kaum terpelajar namun kemudian pindah ke desa untuk menjadi petani. menurut Ratna dan Saleh, “…kalau kaum terpelajar masuk ke desa-desa dan bekerja pula sebagai tani, maka pekerjaannya tentu akan lebih teratur…. hanya orang tani terpelajar yang hidup hati dan pikirannya yang akan dapat membawa perubahan kepada orang tani biasa.” (p. 155).

Ratna sebagai seorang istri, tidak hanya diam mengikuti kehendak suaminya. Ia mempunyai misinya sendiri. Melalui artikel-artikel yang di tulisnya di majalah dan usaha-usaha tani yang dilakukannya dengan Saleh, ia berharap mereka dapat menjadi pelopor kaum tani terpelajar. Dari sini nampaknya Tuti menyadari bahwa pernikahan adalah sebuah perjanjian sakral yang harus diarungi bersama orang terkasih yang menjunjung nilai-nilai hidup yang sejalan. Karena itulah, ketika Maria sakit parah dan merelakan Jusuf dan Tuti yang sudah mulai saling mencintai, Tuti menerima pinangan Jusuf. Padahal sebelumnya, Tuti adalah orang yang tidak mau menikah jika alasan mengapa ia harus menikah tak dapat diterima dengan akal sehatnya. Ia pernah bertunangan kemudian gagal, ia pernah di lamar namun ia tolak, walaupun ia telah berkali-kali disindir akan umurnya yang sudah 27 tahun tapi belum menikah (untuk ukuran zaman itu umur 27 tahun adalah umur yang sudah kelewat tua untuk menikah). Namun peleburan pemikiran-pemikiran Tuti tentang feminisme dan kodrat wanita untuk mencintai menjadikan pandangannya mengenai pernikahan sangatlah menarik.

Tuti dan Jusuf adalah sepasang pemuda-pemudi intelektual yang selalu memikirkan nasib bangsanya, mereka adalah pemikir-pemikir yang membuat saya menyadari bahwa menjadi kaum terpelajar berarti menyadari urgensi-urgensi yang dihadapi zaman. Mereka adalah orang-orang yang terus berjuang untuk hal yang mereka percayai. Karena itu lah kasih mereka berlandaskan rasa hormat terhadap satu sama lain.

Menamatkan buku ini di atas kapal feri menuju pulai Sumatera, membuat saya berpikir, mengapa S. Takdir Alisjahbana memberinya judul Lajar Terkembang? Seakan menakdirkan saya untuk menamatkan buku ini di atas kapal laut yang layarnya sedang terkembang :). Padahal, kata “Lajar Terkembang” sendiri hanya muncul satu kali dalam buku, dan hanya dalam adegan yang menurut saya kurang penting, yaitu ketika Jusuf mengajak Maria naik perahu. Tapi ketika saya renungkan kembali, bagi saya maknanya tersirat pada halaman terakhir buku ini.

Metafor Lajar Terkembang nampaknya disematkan pada semangat Tuti dan Jusuf dalam menghadapi tantangan zaman. Tuti dengan gerakan-gerakan pada organisasi perempuannya dan Jusuf pada perkumpulan pemuda yang memperjuangkan pendidikan untuk siswa-siswa kurang mampu. Dan ketika akhirnya mereka berjalan bersama menuju hari pernikahan mereka, mereka berjalan bersama orang-orang yang sama-sama tengah berjuang di penghujung sebuah zaman, menuju bangsa Indonesia yang merdeka sepenuhnya.

“Terus, terus auto mereka melancar, berbelok-belok menurun ke bawah ketempat kerja manusia ditengah-tengah perjuangan dengan sedih dan senangnya”. (p.166)
Advertisements

One thought on “Sikap Perempuan Indonesia Di Akhir Masa Kolonialisme Belanda Dalam Novel Lajar Terkembang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s